Selamat Natal bagi yang merayakannya dan Tahun baru 2012. Semoga karir, rejeki, kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa menghinggapi seluruh alumni ITS dimanapun berada. Amiinnn.....
Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Madura memiliki
konstruksi yang berbeda dengan jembatan Kutai Kartanegara (Kukar).
Bahkan jembatan sepanjang 5,4 Km ini diprediksi mampu bertahan hingga
100 tahun.
Menurut Sekretaris Badan Pengembangan Wilayah Surabaya
Madura (BPWS) Khalawi, ambruknya jembatan Kukar itu, tentunya harus
menjadi pelajaran serius bagi pemerintah terkait pentingnya pemeliharaan
bangunan.
"Kadang kita hanya konsentrasi membangun saja tanpa
memperhatikan pemeliharaan. Padahal, itu jauh lebih penting," kata
Khalawi di sela-sela Seminar Pemetaan Ekonomi, Sosial dan Budaya Madura
di Surabaya, Selasa (29/11/2011).
Ia menjelaskan, konstruksi yang
diberlakukan kedua jembatan ini sangatlah berbeda. Untuk jembatan
Kukar, kata Khalawi menggunakan konstruksi Cabel Stay yang konvensional.
Sedangkan Jembatan Suramadu menggunakan Cabel Stay namun
dirancang untuk lebih kokoh dan tinggi. Kalau Jembatan Kukar, merupakan
jembatan rangka yang dimodifikasi.
"Paling tidak untuk jembatan
Suramadu mampu berdiri hingga 100 tahun ke depan dengan pemeliharaan
yang berkala sesuai standar," tandasnya.
Apalagi, saat ini pengelolaan jembatan Suramadu itu memang masih menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Kedepan,
pengelolaan itu akan diserahkan ke BPWS dan saat ini, masih dalam
proses. Sedangkan BPWS masih melakukan persiapan sumber daya manusia
(SDM) untuk pengelolaan jembatan terpanjang se-Asia Tenggara itu.
"Dan
pemeliharaan itu memang harus diserahkan oleh kontraktor yang memiliki
standar. Termasuk yang perlu diperhatikan adalah tiang jembatan di bawah
laut. Siapa tahu, tiang itu tertabrak oleh kapal yang melintas,"
ujarnya.
(sumber www.okezone.com)
Mohon partisipasi untuk bisa memilih alumni kita (ITS) yang dinominasikan
sebagai CEO of The Year dalam rangka Asia Business Leaders Awards, melalui
online voting di :
<http://www.cnbcasia.com/
http://www.cnbcasia.com/
Adapun alumni kita tersebut adalah :
1. Bpk Dwi Sotjipto : CEO Semen Gresik (No 11) :
Alumni Teknik Kimia ITS
2. Bpk. Siswanto Prawiroatmodjo : CEO PT. Astra Otoparts Tbk, (No. 33):
Alumni Teknik Mesin ITS
Voting paling lambat dilakukan pada 7 Nopember 2011.
Tolong juga di-share ke teman-teman yang lain agar bisa berpartisipasi dalam
rangka mendorong/mengerek nama alumni dan juga almamater kita ke pentas
global.
BANYUMAS, KOMPAS.com — Keasyikan chatting
lewat BlackBerry Messenger (BBM) memang sering menyita waktu dan membuat
banyak orang yang lupa diri. Bahkan, bisa berakibat fatal kalau sampai
membuat lalai dengan keadaan di sekitarnya. Di Baturaden, Banyumas, saat
asyik ber-BBM ria, seorang ibu melalaikan bayinya sehingga tewas
tertimpa bantal. Peristiwa tragis ini diceritakan oleh seorang
Kompasianer dengan nama pena Titi dalam tulisannya di Kompasiana, Jumat (30/9/2011) siang tadi.
Menurut cerita Titi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.45 tadi. Saat bapak dari bayi tersebut pulang dari tempat kerja untuk melaksanakan shalat Jumat, ia mendapati sang bayi sudah lemas dan tak bersuara seperti biasa. Sementara sang ibu tengah asyik menggunakan BlackBerry-nya di ruang tamu. Seketika itu juga sang bapak melarikan bayinya ke klinik untuk memeriksakan keadaan bayinya.
Namun malang, bayi itu sudah tidak bernyawa lagi walau masih terasa hangat. Hasil pemeriksaan dokter, jantung bayi itu tak lagi berdetak, tidak ada suara paru, serta dipastikan pupil dari kedua matanya yang sudah melebar atau midriasis dan tidak adanya refleks cahaya dari pupil mata itu. Ini adalah salah satu tanda pasti kematian karena rileksnya otot siliaris pupil dalam bola mata.
"Saat datang ke klinik kami, bapak ini membopong bayinya didampingi sang ibu yang masih menggenggam BlackBerry-nya itu. Setelah dokter menjelaskan semua keadaan yang ada, spontan sang bapak merampas BB istrinya itu dan melemparkan ke tembok klinik hingga hancur berantakan," tulis Titi.
Cerita miris tersebut langsung mendapat banyak tanggapan dari pembaca Kompasiana. Hanya dalam hitungan jam sejak diunggah sekitar pukul 12.00, tulisan itu sudah dibaca lebih dari 60.000 kali dan ada 75 komentar sampai pukul 22.00. Rata-rata dari komentar itu mengingatkan kembali kepada semua orang agar tidak lalai menggunakan teknologi.
Ada yang menyalahkan sang ibu. Tetapi, ada juga yang tetap bersimpati dengan peristiwa yang menimpa keluarga tersebut. Bagaimana trauma psikologis sang ibu saat disalahkan oleh suami sebagai penyebab kematian anaknya.
"Inalilahi wa innailaihi rojiun…. Semoga ayahnya diberi ketabahan dan ibunya mendapat pelajaran yang berharga...," demikian salah satu komentar.
Di antara pembaca, ada pula yang menyangsikan cerita Titi, bahkan menuding sebagai hoax karena tidak disertai rincian lokasi kejadian dan korban. Namun, menurut Titi, menjadi hak tempatnya bekerja untuk merahasiakan data pasien, kecuali untuk kepentingan penyelidikan hukum. Adapun Titi merupakan salah satu penulis di Kompasiana yang akunnya terverifikasi.
TEMPO Interaktif, New York
- Sejumlah diplomat di Kota New York, Amerika Serikat, tak pernah
membayar denda tilang. Dalam laporan terakhir yang dikutip dari Reuters dan ibtimes.com, sampai Juli tahun ini jumlah denda tilang ini mencapai 16,7 juta dolar atau lebih dari Rp 146 miliar.
Dari
jumlah tersebut, diplomat Indonesia menyumbang di peringkat ketiga yang
belum membayar denda tilang. Jumlah utang tersebut US$ 725.000 atau Rp
6,3 miliar (kurs Rp 8.770). Jumlah yang sangat besar itu kemungkinan
bertambah pekan ini, saat para pemimpin dunia berkumpul untuk Sidang
Majelis Umum PBB.
Adapun Mesir di posisi teratas dengan jumlah tunggakan US$ 1,9 juta, diikuti Nigeria sebanyak US$ 1 juta.
Anggota
kongres Michael Grimm, Peter King, dan Edolphus Towns mengatakan telah
membuat aturan baru soal pembayaran parkir untuk para diplomat di New
York. Dalam aturan baru itu diplomat yang menolak atau tidak membayar
denda akan dikenai sanksi.
"Dan
terbayang berapa banyak denda yang muncul pekan ini," kata juru bicara
Grimm, Carol Danko, mengenai diplomat dan pemimpin dunia yang bertemu di
Markas PBB di New York seperti dikutip dari Reuters, Sabtu 24 September 2011.
Berdasarkan
aturan yang berlaku saat ini, sebanyak 110 persen total utang parkir
yang belum dibayar di New York dan Washington DC ditanggung bantuan luar
negeri.
Di
New York ada 289 perwakilan negara asing termasuk kantor konsulat.
Mereka kebanyakan melanggar aturan lalu lintas soal keamanan berkendara
dan parkir sembarangan termasuk menutupi hidran untuk pemadam kebakaran.
Anggota
kongres tampaknya kesal dengan ulah diplomat itu. Bahkan ketika
mengenalkan aturan baru pada Mei lalu, Michael Grim mengeluarkan
pernyataan keras. "Tidak ada istilah 'kekebalan diplomatik' dari
kewajiban membayar denda tilang," kata dia.
Menurut
Grim, jika seseorang kena tilang di New York, yang bersangkutan harus
membayarnya. "Tidak ada pengecualian. Anggaran New York cukup ketat, dan
diplomat asing tak patut menerima bebas parkir dengan membebani
pembayar pajak New York," tuturnya.
Berikut sejumlah berita terkait Kongres IKA ITS 2011: http://www.investor.co.id/national/wapres-buka-kongres-ika-its/21382 http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&do_pdf\…
MORE