Namun, namanya sudah banyak dikenal di dunia minyak dan gas bumi, serta pertambangan mineral. Dialah salah satu pendiri PT Mahaka, bersama Muhammad Lutfi, kini Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Cak Sardjono kini juga menjadi pemilik liquified petroleum gas (LPG) plant terbesar dari sisi kapasitas produksi di Indonesia.
Begitu menjadi pengurus, Cak Sardjono langsung aktif. Dia hampir selalu hadir dalam acara yang diadakan pengurus. Dalam rapat kerja nasional PP IKA ITS akhir tahun lalu di Bandung, Jawa Barat lalu, di tengah kesibukannya yang tinggi, Cak Sardjono mengikuti rapat hingga menjelang penutupan.
Untuk mengetahui kiprah Cak Sardjono baik di IKA ITS maupun di dunia kerja, wartawan majalah IKA ITS, Kelik Dewanto dan Ahmad Thonthowi, mewawancarinya di kantornya, di Gedung Artha Graha Lantai 6, Kawasan Pusat Bisnis Sudirman, Jakarta Selatan pada pertengahan Januari lalu.
Bagaimana Network IKA ITS sejauh ini?
Belum terlalu kelihatan manfaat network di IKA IT ini. Kita mesti berjuang
lebih baik lagi agar network menjadi bagus, tidak hanya internal, tapi juga
diakui secara nasional. Network itu seharusnya jangan hanya mandek di ITS, tapi
harus keluar. Kalau di ITS saja, maka tidak akan menghasilkan apa-apa.
Contohnya?
Dunia perminyakan dan gas bumi lebih banyak digeluti orang di luar ITS. Memang
mereka terjun lebih dulu dan mereka sudah punya ilmu perminyakan dan geologi sejak lama, sehingga bisa lebih berkembang. ITS sendiri baru mau merintis jurusan perminyakan atau geologi. Otomatis, dunia ini dikuasai mereka. Tapi, bukan berarti kita tidak bisa berkembang. Kita harus menjalin hubungan dengan mereka. Mau atau tidak mau. Bukan berarti orang ITS, tidak banyak yang bekerja di dunia perminyakan. Kita banyak, tapi hanya 1-2 orang saja yang berperan besar sebagai pimpinan. Karenanya, kita harus lebih terbuka.
Selain network, apa lagi yang harus dibenahi?
Teman-teman ITS itu sering egonya terlalu besar. Kejawatimurannya besar. Seperti tidak mau
kenal orang lain. Kalau sudah ITS, ya ITS-lah yang paling besar. Itu malah menutup diri, dan justru menghalangi kita bergaul secara lebih luas.
Padahal, bisnis terjadi karena ada network atau pergaulan, uang nomor dua, selain pengetahuan tentunya. Network juga bisa dilakukan secara individu, tidak melalui lembaga seperti IKA.
Jadi, ego tidak diperlukan?
Perlu. Tapi, jangan lantas tidak bergaul. Perguruan tinggi lain itu banyak bergaul. Setelah berada di atas, mereka menggeret adik-adiknya. Kalau alumni ITS, begitu sudah berhasil, tidak mau dirusuhi adik-adiknya. Bahkan, jangankan menggeret, ditemui saja sulit. Sekarang ini, sudah agak bagus. Coba kalau dulu, ketemu orang sukses dari ITS sangat sulit.
Alumni ITS perlu geret-menggeret?
Menurut saya perlu. Universitas lain sudah melakukannya sejak dulu. Mereka lebih kompak. ITS baru sedikit yang melakukan seperti itu.
Bagaimana soal pendanaan?
Seorang pemimpin harus memberi contoh. Misal, melalui Forum Eksekutif ITS, alumni diminta iuran Rp100 juta. Mungkin tidak menjadi masalah, tapi pemimpin harus memberi contoh. Dengan demikian, banyak yang ikut. Melalui forum tersebut, alumni bisa diajak berinvestasi dalam berbagai bisnis, bisa bangun kompresor untuk pembangkit listrik seperti yang saya geluti, ikut baksonya Cak Eko, atau pendidikan.
Potensi pengumpulan dananya?
Cukup besar, tapi mesti ada iuran pada tahap awalnya. Jangan dadakan, misal ada kegiatan di Bandung, baru iuran. Dana harus ada sampai akhir periode. Pemanfaatan dana juga harus dipertanggungjawabkan. Sebab, dana ini kepercayaan. Selain itu, pemimpin harus melepaskan IKA dari kepentingan pribadi terutama yang menyangkut keuntungan.
Menurut Anda, apa untuk cara membesarkan IKA ITS?
IKA ITS sekarang ini sudah lebih bagus. Hanya tinggal memperkecil perbedaan
antarwilayah dan antara pusat dan wilayah. Pusat hanya sebagai koordinator,
wilayah yang kerja. Tugas koordinator adalah mengarahkan, membimbing dan
kalau perlu membantu. Toh, kalau keluar namanya ITS juga. IKA juga harus
lebih meninggalkan atribut jurusan atau apalah, dan bersatu lagi. Hal itu bisa dilakukan dengan
lebih sering bertemu dan memang perlu waktu.
Sardjono masuk ke Teknik Kimia pada tahun 1981, sebagai mahasiswa pindahan dari Universitas Diponegoro, Semarang. Setelah menyelesaikan kuliah tahun 1986, Sardjono muda bekerja di PT Petrokimia Gresik pada tahun 1987-1988. Setelah itu, bekerja di PT Kelian Equatorial Mining (KEM) selama 1,5 tahun sebagai metallurgist.
Sardjono muda terus berkiprah. Tahun 1993, Sardjono mendirikan PT Mahaka antara lain bersama dengan M. Lutfi (kini, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal – BKPM), Wisnu Wardana, dan Erick Tohir (kini Direktur Utama TV One). Melalui PT Mahaka ini, Sardjono mengajukan proposal pembangunan pabrik kapur hidrat ke PT Freeport Indonesia.
Setelah proyek di Freeport dengan nilai investasi US$37 juta dolar AS selesai, Sardjono memutuskan keluar dari Mahaka. Dia masuk ke bisnis nikel melalui perusahaan milik sendiri, PT
Kencana Raya Mega Perkasa di Pulau Ge, Halmahera. Nikel mulai ditambang tahun 1996, dan selesai produksi 2006. Selain itu, melalui perusahaannya yang lain, PT Yudhistira Bumi Bhakti bekerja sama dengan PT Aneka Tambang (Persero) mengerjakan tambang nikel Tanjung Buli. Perusahaan tambangnya ini mulai berproduksi sejak 1998, dengan kapasitas sekarang 1,5 juta ton bijih nikel per tahun.
Mengapa memutuskan keluar dari Kelian dan menjadi enterpreneur? Kan sudah enak?
Saya tidak mau hanya menjadi second class. Kita yang mengerjakan segala
sesuatunya, tapi yang dapat nama para ekspatriat. Gaji besar mereka. Tapi, kalau ada
yang salah, kita yang kena. Perusahaan asing itu mau enaknya sendiri. Nah, waktu di
Kelian, saya diminta membina perusahaan kecil yang memasok kapur hidrat ke
Kelian.
Saya ajukan proposal pembangunan pabrik kapur hidrat dengan teknologi modern ke Kelian. Kapurnya akan terbakar sempurna. Saya dapat teknologi tersebut, setelah keliling Eropa dan bertemu dengan perusahaan kapur hidrat terbesar di dunia. Tapi, Kelian tidak mau. Akhirnya, saya keluar dari Kelian, dan proposal saya tawarkan kemana-mana. Akhirnya, saya mendirikan Mahaka itu, agar proposal lebih bisa diterima.
Menurut Anda, ITS perlu pendidikan entrepreneur?
Jiwa pengusaha tidak bisa dipaksakan. Tapi, kondisilah yang memaksa atau memang sudah punya bibitnya. Pendidikan memang bisa membuat manager menjadi handal, tapi tidak menciptakan pebisnis. Saran saya, kalau mau menjadi pengusaha, sekecil apapun itu, kalau bisa sesuai bidangnya. Sayang sekolahnya.
Selain bisnis pertambangan, Cak Sardjono juga tercatat sebagai orang pertama yang mengembangkan LPG dari gas alam. Kini dia memiliki LPG plant terbesar se-Indonesia yang ada di Gresik, Jawa Timur. Setelah LPG, Cak Sardjono berencana untuk menjadi pengembang DME dari gas bumi pertama di Indonesia.
Mengapa tertarik terjun ke bisnis LPG?
Berikut sejumlah berita terkait Kongres IKA ITS 2011: http://www.investor.co.id/national/wapres-buka-kongres-ika-its/21382 http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/index2.php?option=com_content&do_pdf\…
MORE